keluarga berencana menurut pandangan islam

KB dalam Pandangan Syari’at Islam

Posted by mita yuliani

nim 12121667

Oleh AFA SILMI HAKIM

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Permasalahan terkait KB harus dibahas menjadi 2 aspek, karena setiap aspek memiliki hukum cabang yang berbeda-beda. pertama aspek tujuan dari seseorang itu KB dan kedua aspek bagaimana ia KB?

Untuk  aspek pertama, apabila seseorang itu melakukan KB dengan alasan ekonomi, dengan asumsi bahwa orang yang banyak anak akan menjadi miskin atau semakin miskin, maka dengan alasan seperti ini adalah Haram, ini di dasarkan firman Allah SWT :

 

وَلا تَقْتُلُوا أَوْلادَكُمْ مِنْ إِمْلاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ

…dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena kemiskinan (mu). Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka… (QS. Al-An’am: 151)

Ibnu Katsir menfasirkan ayat di atas sebagai berikut: Mereka membunuh bayi-bayi laki-laki mereka karena takut jatuh miskin. Karena itu disebutkan dalam kitab Shahihan melalui hadits Abdullah bin Mas’ud r.a,  bahwa beliau pernah bertanya kepada Rasulullah SAW. Dosa apakah yg paling besar? Rasulullah SAW. Bersabda: bila kamu menjadikan tandingan bagi Allah, padahal Dialah yang menciptakan kamu. Ibnu Mas’ud bertanya, kemudian apa lagi? Rasul SAW. Menjawab: bila kamu membunuh anakmu karena takut si anak ikut makan bersamamu. (HR. Bukhori) (Tafsir Ibnu Katsir, Juz VIII, hal 149)

Ibnu Abbas, Qatadah, dan As-Saddi serta yang lain mengatakan bahwa Imlaq artinya kemiskinan. Dengan kata lain, janganlah kalian membunuh anak-anak kalian karena kemiskinan yang kalian alami. (Tafsir Ibnu Katsir, Juz VIII, hal 150)

وَلا تَقْتُلُوا أَوْلادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ إِنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْئًا كَبِيرًا

Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kami lah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar. (QS. Al-Israa: 31)

Janganlah  kalian melakukan pembunuhan anak karena khawatir melarat, rezeki mereka adalah urusan Kami, bukan urusan kalian. Kami memberi kalian dan mereka rezeki, jadi jangan takut miskin karena urusan mereka. (Syaikh Muhammad Ali Ash-Shabuni, Shafwatut Tafasir, Juz 3, hal 209)

Dalam surat  al-Israa ini Allah mulai menyebutkan jaminan rezeki buat anak-anak mereka, karena itulah yang menjadi pokok permasalahannya. Dengan kata lain, janganlah kalian takut jatuh miskin di masa mendatang karena memberi mereka makan, sesungguhnya rezeki mereka ditanggung oleh Allah. Sedangkan dalam surat Al-An’am ini, kemiskinan telah ada sebelumnya, (Tafsir Ibnu Katsir, juz 8 hal 150,dan  Juz 15 hal 199)

Mungkin ada yang bertanya ini kan terkait membunuh sedangkan KB bukan membunuh tapi pencegahan dari kehamilan sebagaimana ada ‘azl (mengeluarkan air mani di luar rahim perempuan) dalam islam maka hadits ini rasanya dapat menjawab hal tersebut:

Di dalam Shahih Muslim, disebutkan bahwa ada Sahabiyyah yang bertanya terkait azl kepada Rasulullah SAW. dan Rasulullah SAW. Menjawabnya:…

ذلك الوء د الخفي زاد (رواه مسلم)

Itu adalah pembunuhan secara tidak langsung (HR. Muslim: 2613, dari Judamah binti Wahb)

 Jadi jelaslah bahwa takut memiliki anak dengan alasan takut menjadi melarat atau jatuh miskin dsb adalah perbuatan haram dan sebagai bentuk ketidak percayaan bahwa Allah lah yang menentukan rezeki bagi setiap manusia baik rezeki orang tua atau rezeki si anak …

Tapi apabila ada orang yang melakukan KB dengan alasan kesehatan ataupun yang lain (selain takut miskin) maka hukumnya adalah makruh. Karena hukum asal KB menurut saya adalah makruh. Insyallah kita akan membahasnya berikut ini.

Untuk bahasan kedua adalah terkait aspek bagaimana seseorang itu ber KB?

Para ulama berijtihad bahwa KB merupakan bentuk dari Tanzhim an-Nasl (merencanakan keturunan/bukan pemandulan), tapi juga ada yang merupakan tahdid an-nasl (memutus keturunan, pemandulan). Di mana tanzhim an-nasl hukumnya Makruh dan tahdid an-nasl hukumnya Haram.

Dasar argumentasi saya memakruhkan Tanzhim an-Nasl adalah, hadits dibawah ini:

 

قال سئل النبي صلى الله عليه وسلم عن العزل فقال لا عليكم ان لا تفعلوا ذاكم فئنما هو القد ر قال محمد وقوله لا عليكم اقرب ئلى النهي (رواه مسلم)

Dari abu Said al-Khudri ra., dia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam pernah ditanya mengenai Azl(yaitu mengeluarkan mani diluar kemaluan istri waktu jima’), beliau bersabda: Tidak ada mudharat jika kalian tidak melakukan azl, karena sesungguhnya hal itu hanyalah berkenaan dengan takdir Allah. Dan Muhammad(salah seorang rawi dalam hadits ini) berkata, dan sabda beliau: Tidak ada mudharat jika kalian tidak melakukannya”, itu lebih mendekati larangan. (HR. Muslim: 2602)

Dan hadits, berikut:

Dari Abu Sa’id al-Khudri  dia berkata; masalah Azl pernah dibicarakan di hadapan Rasulullah SAW, lantas beliau bersabda: kenapa kalian melakukan hal itu? –beliau tidak bersabda: janganlah salah seorang dari kalian melakukan hal itu- sesungguhnya tidak ada jiwa yang telah diciptakan, melainkan Allah Azza wa Jalla-lah Penciptanya (HR. Muslim 2604)

Mengenai Syarah hadits ini Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: lafadz “kenapa kalian melakukan hal itu? –beliau tidak bersabda: janganlah salah seorang dari kalian melakukan hal itu” ini mengisyaratkan bahwa beliau tidak melarang secara tegas kepada mereka, tetapi hanya mengisyaratkan bahwa yang terbaik adalah tidak melakukannya. Karena ‘azl dilakukan hanyalah karena khawatir memperoleh anak, padahal perbuatan ini tidak ada gunanya. Karena jika Allah telah menciptakan anak maka ‘azl tidak dapat menghalangi-Nya. (Ibnu Hajar Al-Atsqalani, Fathul Baari, juz IX hal 307)

Dari Ibarat yang diberikan Ibnu Hajar diatas bisa kita lihat bahwa larangannya tidak bersifat tegas, tetapi dianjurkan untuk tidak dilakukan karena hal ini adalah sia-sia, maka hukumnya untuk hal semacam ini adalah makruh.

Dan untuk Tahdid an-Nasl, hukum asalnya adalah Haram dasarnya adalah bahwa Tahdid an-nasl adalah salah satu bentuk merubah ciptaan Allah yang kita ketahui bahwa Hukumnya Haram dan Tahdid an-Nasl adalah salah satu bentuk pengebirian, dan hal ini juga bertentangan dengan tujuan disyari’atkannya menikah.

Untuk hukum mengebiri manusia, para ulama sudah sepakat akan keharamannya.  Sebagaimana dinyatakan oleh Imam Abu Umar Ibnu Abdul Barr  : “Para ulama tidak berselisih pendapat bahwa mengebiri  manusia tidak halal dan tidak boleh, karena merupakan bentuk penyiksaan dan merubah ciptaan Allah. Begitu juga tidak boleh memotong anggota badannya yang lain, jika itu bukan karena hukuman had atau qishas. “(Imam al-Qurtubi, al-Jami’ li-Ahkam al-Qur’an, juzV hal 251 )  

Dalilnya adalah:

Dari Sa’ad bin Abi Waqqash radliyallah ‘anhu, bahwa dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memperkenankan Utsman bin Mazghun untuk melajang. Kalau saja beliau membolehkan hal itu, tentu kami akan melakukan pengebirian.” (HR. Bukhari: 4685)

“Tidaklah termasuk golongan kami (umat Islam) orang yang mengebiri orang lain atau mengebiri dirinya sendiri” (HR. At-Thabrani).

Tapi Tahdid an-Nasl hukumnya dapat berubah apabila hal ini berkiatan dengan kesehatan si wanita yang misal, rahim si wanita bermasalah atau apabila wanita tsb. Melahirkan lagi maka akan mengancam nyawa si wanita tsb maka dalam hal ini hukumnya boleh, hal ini di dasarkan pada kaidah:

الضرورات تبيح المحظورات

(Kondisi darurat membolehkan hal-hal yang dilarang (Diharamkan)

Kebolehannya hanya sebatas pada hal darurat, tidak lebih sebagaimana ibarat imam al-Hamawy: Darurat merupakan batas akhir keterpaksaan yang jika tidak melakukan sesuatu hal yang  meski dilarang itu maka dapat  mengancam jiwa. (Hasyiyah al-Hamawy ‘ala al-Asybah wa al-Nadha’ir li Ibn Nujaym, hal 108).

Dan juga penjelasan Ibnu Qudamah dan Ibnu Hajar: Karena bisa mengalami ancaman jiwa (al-khawf ‘ala al-nafs min al-halâk), maka dalam keadaan darurat seseorang diperbolehkan untuk melakukan sesuatu yang dilarang (tubîh al-mahdhûrât) dalam kerangka menyelamatkan jiwanya dari kematian. Ulama bersepakat (ijma’) bahwa bangkai, darah, air kencing, dan daging babi (sesuatu yang diharamkan oleh syara’) adalah halal bagi seseorang yang khawatir dirinya binasa akibat kelaparan dan kehausan. Tetapi tingkat kebolehannya sekadar untuk mempertahankan hidupnya dan “menyelamatkannya” dari kematian. Melebihi dari itu, hukumnya tetap haram (Ibnu Qudamah, al-Mughniy, Juz IX hal 412; Ibnu Hajar, Fathul Baari, juz X hal 65).

Wallahu’alam bi showab…

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s